Sejarah GPdI dan GBI
Friday, August 30, 2013
Edit
Sejarah GPdI
Pada tahun 1921 dua keluarga Missionaris USA datang ke Indonesia yaitu Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika. Pelayanannya dimulai dari Bali, namun apa yang mereka kerjakan di sana mengundang reaksi keras imam-imam Hindhu. Hal ini mendorong pemerintah Belanda melarang mereka menetap di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan di Bali, mendekati Natal 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya dan berlanjut ke kemudian ke kota minyak Cepu pada tahun 1923. Di kota inilah F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus disertai/disusul banyak putera – puteri Indonesia lainnya antara lain : H.N. Runkat, J. Repi, A. Tambuwun, J. Lumenta, E. Lesnusa, G.A Yokom, R.Mangindaan, W. Mamahit, S.I.P Lumoindong dan A.E. Siwi yang kemudian menjadi pionir-pionir pergerakan Pantekosta di seluruh Indonesia.
Pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.
Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523, dengan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”.
Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda “Kerkgenootschap” diubah menjadi “Gereja Pantekosta di Indonesia”. Ketika itu Ketua Badan Pengoeroes Oemoem ( Majelis Pusat) adalah Pdt. H.N Runkat.
Selain itu juga terjadi perpecahan yang kemudian melahirkan gereja-gereja baru dimana para pendirinya berasal dari orang-orang GPdI antara lain:
- Pdt. Ho Liong Seng (DR.H.L Senduk) pendiri gereja GBI yang bersama Pdt. Van Gessel pada tahun 1950 berpisah dengan GPdI dan mendirikan GBIS.
- Pdt. Ishak Lew pada tahun 1959 keluar dan mendirikan GPPS
- sebelumnya pada tahun 1936 Missionaris R.M. Devin dan R. Busby keluar dan membentuk Assemblies of God.
- tahun 1946 Pdt. Tan Hok Tjoan berpisah dan membentuk Gereja Isa Almasih dan lain-lain sebagainya.
Perjalanan Obor Pantekosta Memasuki Indonesia dan Penyebarannya
- 4 Januari 1921, Pdt. Cornelius Groesbeek (46 tahun), istrinya Maria Groesbeek N.D. Weg (43 tahun), bersama anaknya, Jinny (8 tahun), Corry (6 tahun), dan keluarga Pdt. Richard van Klaveren (43 tahun) dan istri Stien van Kiaveren (40 tahun) dengan kapal motor Jepang “M.S. Suwamaru” berangkat dari Seatle, Washington, USA menuju Indonesia, tiba di Jakarta pertengahan Maret 1921.
- Maret 1921 perjalanan diteruskan dari Jakarta ke Surabaya dan dengan kereta api barang (gerbong babi) kedua keluarga penginjil Groesbeek dan Van Klaveren dan Surabaya ke Banyuwangi. Kemudian menyeberang dengan ferry ke Bali. Tanggal 20 Maret 1921 tiba di Denpasar. Tanggal 21 Maret 1921 kesaksian dengan kuasa api (obor) Pantekosta di Bali untuk pertama kali diberitakan.
- Tahun 1921 bulan November keluarga Pdt. Groesbeek dan Van Klaveren meninggalkan Bali dan menuju ke Surabaya.
- 3 Januari 1923, Pdt. Groesbeek dan istri ke Cepu dan memulai kebaktian di rumah keluarg F.G. van Gessel.
- Tahun 1928, 1929 dari Surabaya dengan kapal motor berangkat penginjil-penginjil Albert Rantung, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, Jan Lumenta, Albert C. Jokom ke Minahasa, Sulawesi Utara.
- Tahun 1929, Penginjil Efraim Lesnussa dari Surabaya ke Ambon, kemudian menyusul Job Silooy.
- Tahun 1930, Penginjil Efraim Lesnussa dari Ambon ke Manado memperkuat dan bergabung dengan pionir-pionir Pantekosta, Pdt. Julianus Repi dan kawan-kawan.
- Tahun 1930, Penginjil A.E. Siwi berangkat dari Surabayã ke Palembang, Sumatera Selatan.
- Tahun 1930, Penginjil D. Simanjuntak dari Surabaya ke Medan, Sumatera Utara.
- Tahun 1932, Penginjil Arland F. Wassel dari Surabaya ke Balikpapan kemudian ke Banjarmasin.
- Tahun 1935, Penginjil Efraim Lesnussa dari Tomohon, Sulawesi Utara ke Ternate.
- Tahun 1932, Penginjil A.E. Siwi dari Palembang menginjil ke Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Sibolga, pulau Nias, Bukit Tinggi.
- Tahun 1946, Penginjil Jonathan Itaar dari Manado ke Sorong.
- Tahun 1935, Pdt. Siahaan, dan Pdt. Wassel ke Banjarmasin dan Surabaya.
- Tahun 1948, Pdt. Jonathan Itaar dari Sorong ke Holandia/Jayapura - Irian Jaya(Papua)
- Tahun 1935, Pdt Tobing dari Surabaya ke Kupang, Timor.
- Tahun 1936, Penginjil A.Pelhaupessy dan Manado ke Poso.
--------------------------------------------
Sejarah GBI
Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.
Pdt H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt. Helen Theska Senduk, Pdt. Thio Tjong Koan, dan Pdt. Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk[4] memanggil anak rohaninya, Pdt. S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963. Demikianlah GBI terus mengalami perkembangan dan hadir bukan hanya sebagai gereja aras nasional tetapi telah menjadi gereja internasional yang tersebar di seluruh dunia.[3]
Pada tahun 1921 dua keluarga Missionaris USA datang ke Indonesia yaitu Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika. Pelayanannya dimulai dari Bali, namun apa yang mereka kerjakan di sana mengundang reaksi keras imam-imam Hindhu. Hal ini mendorong pemerintah Belanda melarang mereka menetap di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Karenanya, setelah sekitar 21 bulan di Bali, mendekati Natal 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya dan berlanjut ke kemudian ke kota minyak Cepu pada tahun 1923. Di kota inilah F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhkan Roh Kudus disertai/disusul banyak putera – puteri Indonesia lainnya antara lain : H.N. Runkat, J. Repi, A. Tambuwun, J. Lumenta, E. Lesnusa, G.A Yokom, R.Mangindaan, W. Mamahit, S.I.P Lumoindong dan A.E. Siwi yang kemudian menjadi pionir-pionir pergerakan Pantekosta di seluruh Indonesia.Pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.
Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523, dengan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”.
Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda “Kerkgenootschap” diubah menjadi “Gereja Pantekosta di Indonesia”. Ketika itu Ketua Badan Pengoeroes Oemoem ( Majelis Pusat) adalah Pdt. H.N Runkat.
Selain itu juga terjadi perpecahan yang kemudian melahirkan gereja-gereja baru dimana para pendirinya berasal dari orang-orang GPdI antara lain:
- Pdt. Ho Liong Seng (DR.H.L Senduk) pendiri gereja GBI yang bersama Pdt. Van Gessel pada tahun 1950 berpisah dengan GPdI dan mendirikan GBIS.
- Pdt. Ishak Lew pada tahun 1959 keluar dan mendirikan GPPS
- sebelumnya pada tahun 1936 Missionaris R.M. Devin dan R. Busby keluar dan membentuk Assemblies of God.
- tahun 1946 Pdt. Tan Hok Tjoan berpisah dan membentuk Gereja Isa Almasih dan lain-lain sebagainya.
Perjalanan Obor Pantekosta Memasuki Indonesia dan Penyebarannya
- 4 Januari 1921, Pdt. Cornelius Groesbeek (46 tahun), istrinya Maria Groesbeek N.D. Weg (43 tahun), bersama anaknya, Jinny (8 tahun), Corry (6 tahun), dan keluarga Pdt. Richard van Klaveren (43 tahun) dan istri Stien van Kiaveren (40 tahun) dengan kapal motor Jepang “M.S. Suwamaru” berangkat dari Seatle, Washington, USA menuju Indonesia, tiba di Jakarta pertengahan Maret 1921.
- Maret 1921 perjalanan diteruskan dari Jakarta ke Surabaya dan dengan kereta api barang (gerbong babi) kedua keluarga penginjil Groesbeek dan Van Klaveren dan Surabaya ke Banyuwangi. Kemudian menyeberang dengan ferry ke Bali. Tanggal 20 Maret 1921 tiba di Denpasar. Tanggal 21 Maret 1921 kesaksian dengan kuasa api (obor) Pantekosta di Bali untuk pertama kali diberitakan.
- Tahun 1921 bulan November keluarga Pdt. Groesbeek dan Van Klaveren meninggalkan Bali dan menuju ke Surabaya.
- 3 Januari 1923, Pdt. Groesbeek dan istri ke Cepu dan memulai kebaktian di rumah keluarg F.G. van Gessel.
- Tahun 1928, 1929 dari Surabaya dengan kapal motor berangkat penginjil-penginjil Albert Rantung, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, Jan Lumenta, Albert C. Jokom ke Minahasa, Sulawesi Utara.
- Tahun 1929, Penginjil Efraim Lesnussa dari Surabaya ke Ambon, kemudian menyusul Job Silooy.
- Tahun 1930, Penginjil Efraim Lesnussa dari Ambon ke Manado memperkuat dan bergabung dengan pionir-pionir Pantekosta, Pdt. Julianus Repi dan kawan-kawan.
- Tahun 1930, Penginjil A.E. Siwi berangkat dari Surabayã ke Palembang, Sumatera Selatan.
- Tahun 1930, Penginjil D. Simanjuntak dari Surabaya ke Medan, Sumatera Utara.
- Tahun 1932, Penginjil Arland F. Wassel dari Surabaya ke Balikpapan kemudian ke Banjarmasin.
- Tahun 1935, Penginjil Efraim Lesnussa dari Tomohon, Sulawesi Utara ke Ternate.
- Tahun 1932, Penginjil A.E. Siwi dari Palembang menginjil ke Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Sibolga, pulau Nias, Bukit Tinggi.
- Tahun 1946, Penginjil Jonathan Itaar dari Manado ke Sorong.
- Tahun 1935, Pdt. Siahaan, dan Pdt. Wassel ke Banjarmasin dan Surabaya.
- Tahun 1948, Pdt. Jonathan Itaar dari Sorong ke Holandia/Jayapura - Irian Jaya(Papua)
- Tahun 1935, Pdt Tobing dari Surabaya ke Kupang, Timor.
- Tahun 1936, Penginjil A.Pelhaupessy dan Manado ke Poso.
--------------------------------------------
Sejarah GBI
Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.
Pdt H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt. Helen Theska Senduk, Pdt. Thio Tjong Koan, dan Pdt. Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk[4] memanggil anak rohaninya, Pdt. S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963. Demikianlah GBI terus mengalami perkembangan dan hadir bukan hanya sebagai gereja aras nasional tetapi telah menjadi gereja internasional yang tersebar di seluruh dunia.[3]
